Install this theme
Tempat yang Tepat

“Setiap pagi , setiap aku melihat matahari terbit di Bali , aku selalu melihat warna-warna yang berbeda” ucap seorang sahabat dekat , mendeskripsikan bagaimana pada akhirnya dia menyadari dia tidak bisa hidup jauh dari Bali. Medeklarasikan cintanya pada suatu tempat seolah-olah ia telah menemukan pendamping hidup yang tepat.

Apakah kampung halaman,tempat kita lahir atau tempat kita tumbuh besar akan selalu menjadi tempat dimana kita siap untuk menghabiskan separuh lebih usia kita?

Atau kita masih harus menjelajahi berbagai tempat yang kelak pada akhirnya menjadi tempat yang tepat untuk berlabuh di hati kita ?

Dengan usia yang terbatas, kesempatan untuk penjelajahan ini tentu menjadi suatu prospek yang menarik.Prospek yg baiknya tidak dicemari dengan hanya menatap ke depan dan melupakan apa yang ada di sekeliling kita sekarang.

Tempat yang tepat , suatu konsep yang sepertinya selalu ada jauh dari genggaman kita.

Tempat dimana kita berada sekarang seringnya tidak pernah cocok dengan kriteria-kriteria kita. Namun , benarkah di luar sana ada satu tempat yang sempurna memenuhi semua kriteria tersebut? 

Semoga tempat yang tepat adalah tempat dimana kita selalu berada , dimanapun itu.

Tepat karena kita bisa melihat bahwa angan-angan dan mimpi yang jauh tersebut ada bukan untuk melupakan apa yang ada di sekeliling kita sekarang. Melainkan untuk menikmati masa sekarang dengan semangat ketidaktahuan apa yang terjadi di masa depan.

Hey man, it’ll be okay.

terlalu banyak pilihan

Kebebasan untuk memilih. Sesuatu yang pernah ada hanya di alam khayal beberapa abad yang lalu. Bahkan sekarang pun , di era globalisasi seperti ini , masih tetap ada negara yang tidak mengakui kebebasan individu untuk memilih.

Keberuntunganku dalam hal ini , ada. Aku lahir di negara demokrasi , begitupun juga negara dimana sekarang aku bertempat tinggal.

Ada satu fenomena yang tanpa sadar merasuki sendi-sendi keseharian kita , fenomena kebanjiran pilihan.

Semakin banyaknya pilihan , semakin sulitnya untuk memenuhi rasa kepuasan.

Dalam contoh membeli barang saja , waktu kita ingin membeli satu laptop , pergilah kita ke toko elektronik terdekat ataupun browsing di internet. Kemudian di sini kita berhadapan dengan kurang lebih 10 laptop yang siap dipilih. Setelah memutuskan membeli laptop A,dalam masa awal-awal penggunaannya, tak jarang kita menemukan segala kekurangannya, yang membuat kita tak berhenti bertanya-tanya , “tahu gini beli laptop B yang katanya lebih bla bla bla ” , “laptop C lebih bagus deh kayaknya”.

Kebebasan untuk memilih terang-terangan telah dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang notabene merupakan motor-motor segala aktifitas ekonomi model kapitalisme ini (atau konsumisme ? ).

pukul 02.30

Tiba-tiba aku rindu mereka.

Satu yang khas aku lakukan kalau sudah begitu.

Aku buka satu per satu profil facebook mereka.

Kita semua sama, sekali-kali aja buka dan ‘update’ status di facebook (atau bahkan gak nge’update’ sama sekali). Hahahaha , intinya kita bukan ‘facebook addict’. Secara gak langsung aku sadar , mungkin karena hal sesederhana itu lah yang buat kita cocok. Walaupun kita dulu gak ‘ngeh’ apa yang membuat kita klik.

Apa yang membuat kita klik ? Bisa jadi karena di permukaan kita terlihat percaya diri dan yakin dengan siapa diri kita sebenarnya , yang membuat kita merasa tidak perlu sama sekali untuk ikut-ikutan arus/orang kebanyakan.. tidak terburu-buru untuk bisa menemukan jati diri. Perlahan tetapi pasti , kita selalu tahu bahwa menjadi diri sendiri dan tidak ikut-ikutan sudah lebih dari cukup. Persamaan yang sederhana inilah yang mungkin membuat kita klik dan cocok.

Sekarang aku merasa konyol.. Mereka sudah berbelok dan menelusuri jalan mereka masing-masing. Sedangkan aku di sini masih memendam rasa sayang yang sama atau bahkan LEBIH dari aku-6-tahun-yang-lalu. Mereka sudah melaju terbang tinggi dan menganggapku sahabat lama , sahabat masa SMP-SMA , dan aku di sini masih menempatkan mereka di tempat yang sama sejak tahun 2005 itu .. Mereka sudah punya sahabat-sahabat baru lainnya yang lebih tahu tentang mereka-yang-sekarang daripada aku , tapi aku di sini merasa cemburu setengah mati dengan sahabat-sahabat baru itu , sampai-sampai tak bisa aku pungkiri tentang harapanku untuk bisa lagi jadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka. KONYOL bukan ?

namanya juga rindu , lebih sering bertajuk kata ‘konyol’ daripada ‘masuk akal’

lagian perasaan rindu memang lebih sering menyakitkan daripada menyegarkan bukan?

sekarang aku hanya bisa untuk lebih rajin memasukkan nama mereka di setiap doaku.

benar-benar berharap dan berdoa supaya mereka tidak pernah lupa untuk selalu jadi diri sendiri dan tidak ikut-ikutan arus/orang kebanyakan. supaya dalam keseharian mereka , mereka tidak pernah berhenti belajar tentang apapun yang mereka PERLU pelajari. supaya perubahan yang menimpa mereka , jauh lebih sering perubahan yang positif daripada yang negatif.

:)

keraguan

kurang lebih 2 tahun aku menyatakan cintaku pada matematika.

Pada akhirnya, aku pun menceburkan diri ke dunia itu.

Dan sekarang , bertepatan 20 hari sebelum umurku genap 20 tahun , “keraguan” tak segan menabrakkan diri di pintu kaca ini.

“Keraguan” ini menampakkan parasnya tepat di hadapanku , tanpa peringatan apapun sebelumnya. Dia berhasil menghipnotisku dan di bawah alam sadarku , berbagai macam pertanyaan muncul satu persatu ..

Apa pilihanku ini tepat ? Apa aku bisa terus melaju di jalan yang sudah kupilih ini ? Bagaimana kalau pada akhirnya aku gagal ? Mungkinkah cintamu pada matematika hanya sesaat ?

Untuk sesaat , aku harus pintar-pintar untuk tidak mengelakkan pandangan ke pintu kaca dimana “keraguan” itu ada. Mungkin dengan begitu , perlahan-lahan dia akan lelah dan pergi. Tentu saja dia akan lelah , mana mungkin kubiarkan “keraguan” masuk ke istanaku ini !

Bu Hetty

Untuk kedua kalinya , kepergian seseorang dari dunia ini menjadi headline hari-hariku.

Tak sedarah , bukan satu suku , baru mengenal satu sama lain genap 2 tahun yang lalu , tapi tak memungkiri kekaguman besarku pada beliau , rasa sayangku pada beliau dan kenangan yang tertumpuk tentang beliau.

Ku bertanya-tanya, apa Tuhan sedang memanggil satu per satu orang-orang yang super baik ini ? orang-orang yang tak ada satupun keluarga,sahabat dan kerabat yang tidak menangis atas kepergiannya ? Kemudian setelah semua orang super baik ini dipanggil olehNya , tinggallah di bumi orang yang kadar baiknya di bawah super ? apakah ini penjelasan kenapa kemanusiaan terasa semakin tipis hari demi hari ?

Lagi-lagi aku pesimis.

Lagi-lagi aku melihat seolah-olah bumi penuh dengan manusia yang lebih menyerupai monster daripada manusianya sendiri.

Padahal ku tahu tidak seperti itu. Aku harus percaya 200% bahwa keadaannya tidak seperti itu.

Bumi masih punya manusia-manusia yang tidak lupa perannya.

Iya. Pasti itu.

Kalau kepercayaanku akan hal itu pudar , apalah manfaatku menapaki,menjejaki dan menelusuri bumi ini ?

hujan

hujan. aktifitas alam yang terlihat biasa untuk kebanyakan orang.

tapi tidak sedikit juga yang merasa takut akan datangnya hujan.

ada yang mendengar suara petir , rintik-rintik dan angin yang kencang , lalu dengan mudahnya dia membuka pintu wismanya , kemudian masuk.

tapi di seberang sana , di saat yang bersamaan ,  ada yang jantungnya berdebar-debar , berusaha menutup lubang-lubang di atap yang seadanya itu. ada yang berlarian mencari tempat berteduh paling ideal , bisa di depan bangunan yang itu atau bangunan yang ini , apapun yang bisa mencegah air hujan jatuh bertubi-tubi di kepala dan badannya.

ada yang salah dengan perasaanku yang damai saat mendengar rintik-rintik hujan , tak peduli sebesar apa hujan itu , kupejamkan mata dan kunikmati rintikan itu. ada yang salah .. aku menikmati semua itu padahal di saat yang bersamaan tak sedikit yang berdoa dalam setiap hembusan nafasnya agar hujan segera berhenti .. agar hujan tidak selebat itu .. karena mereka adalah tahanan yang lain daripada yang lain. bukan tahanan penjara yang punya tempat berteduh itu , bukan .. mereka adalah tahanan yang ditahan atas tindakan kriminal para atasan di balik layar. Tahanan yang punya penjara tidak kelihatan .. karena penjara mereka adalah ketidakmampuan mereka untuk memiliki wisma.

dua blog yang membuatku terkesima

evbogue dan colin wright , dari tumblr saya bertemu dengan 2 blog yang menakjubkan ini.

dua blog yang menawarkan hawa berbeda di aktifitas saya dalam berbrowsing ria.

Lagi dan lagi saya diingatkan betapa luasnya internet , betapa konyolnya jika kita hanya berpatut di jejaring sosial selama berjam-jam kita berhadapan dengan komputer/laptop/handphone. Konyol bukan?

Sudah dari dulu saya mengerti bahwa internet adalah perpustakaan masa kini. Maka dari itu setiap ada waktu untuk browsing selalu saya usahakan untuk mengurangi kunjungan ke website yang itu-itu saja dengan aktifitas yang itu-itu saja(terkecuali tumblr dan blogger yang benar-benar saya butuhkan untuk dosis menulis saya).

Tak jarang saya memasukan keyword apapun yang terlintas dalam benak saya di google , dari situ saja Google berhasil membawa saya ke berbagai macam situs. Jadi mengapa harus kita batasi kemana kita pergi di dunia maya yang tak terbatas ini? 

Kembali tentang dua blog yang sudah saya sebutkan di awal post ini , mereka adalah dua orang yang merangkul erat-erat gaya hidup minimalis dan tentunya teknologi yang berkembang pesat sekali.

Terutama dengan Ev Bogue , yang merupakan pioner dari awal mula gerakan gaya hidup minimalis ini, saya suka dengan deskripsi dia mengenai Augmented Humanity (kemanusiaan berkembang).

Dimana pada diri setiap orang yang hidup di abad 21 ini memiliki dua sisi.

Sisi pertama adalah manusia yang bergelautan di dunia maya dan sisi lainnya yang bergelautan di dunia nyata. Maka dari itu dengan bangganya dia menyatakan bahwa kita semua ini adalah cyborg (setengah manusia,setengah robot). Deskripsi yang simple dan mengena.

Dia memberi contoh yang sederhana bagaimana ketergantungan dia dengan iPhone nya untuk sekedar pergi dari San Fransisco ke Los Angeles dan bagaimana dia menemukan cafe yang bagus di kota yang sama sekali belum pernah dia kunjungi sebelumnya tanpa perlu bertanya ke penduduk setempat. 

Hal sederhana seperti inilah yang sudah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari , sehingga kita lupa untuk merangkul teknologi erat-erat . Juga untuk mengerti dan memanfaatkannya dengan baik.

Jangan sampai kita membiarkan teknologi berkeliaran tak jelas dan memanggilnya hanya saat kita butuh saja.

Lagi-lagi kebanyakan dari kita terlena dan lupa bahwa teknologi ini adalah salah satu alat paling jitu untuk membuat perbedaan di abad ke 21 ini dibandingkan dengan abad-abad sebelumnya. 

Tidakkah membuat kita bertanya-tanya mengapa hal yang sama dari jaman dulu masih terulang dan terjadi sekarang ?

mereka berlari-lari mengejar sesuatu yang tak tampak.

mereka terengah-engah karena dikejar sesuatu yang tak berwujud.

jarang mereka menyempatkan untuk berhenti sejenak.

perhentian yang mereka perlukan untuk menyadari bahwa tidak ada keharusan untuk terus berlari-lari.

tak ada yang tahu kapan jurang itu akan muncul di hadapan.

karena mereka tak tahu dimana persisnya jurang itu terhampar , bukankah lebih baik berjalan perlahan sembari menikmati apa yang ditawarkan kanan,kiri,atas,bawah,serong dan sekitar kita ?